Bebas Berekpresi

Ombak di laut selalu berlari-lari dengan riang sambil meneriakan suaranya yang khas “debyuuurr”. Bebas seakan tidak ada yang perlu dipedulikan. Sebagaian orang takut akan deburannya yang begitu ganas, tapi dia tidak peduli. Ada yang mengumpat ketika dia mendadak terlihat lebih besar, tapi dia tetap tidak peduli juga. Dia bebas tidak ada yang bisa menghalangi kebebasannya. 
 
Kita sebagai manusia juga mempunyai kebebasan untuk mejalani hidup. Bebas memilih jalan hidup yang ingin kita lalui. Hanya saja, sebagian orang mulai mengkotak-kotakan yang menurut mereka baik atau salah dimata mereka sendiri yang belum pasti baik atau salah dimata orang lain. 
 
Setiap orang mempunyai kebebasan untuk mengekpresikan diri mereka seperti apa yang mereka inginkan. Gembira, menangis, marah, kecewa, tertawa, semua ekspresi yang muncul tersebut tidak ada yang melarang untuk dikeluarkan, asalkan tidak merugikan orang lain, tidak melukai orang lain. Sah-sah saja kita melakukan itu semua.
 
Ketika kita bahagia, bergembira, maka melompatlah jika itu diperlukan, teriaklah jika memang dibutuhkan, tidak ada yang perlu disembunyikan. Tapi, sadar tempat juga ya, jangan sampai mengganggu kenyamanan orang.
 
Ekspresikan setiap kegembiraan yang datang, tidak ada salahnya mengeluarkan segala ekspresi diwajah tersenyum, berteriak dengan kata “yeaah”, melompat. Bahkan saya sendiri pernah dikatain gila karena hal ini. Tapi, ini adalah hal yang menyenangkan.
 
Jika kamu bersedih, kecewa maka menangislah. Tidak ada hukum kalau menangis itu dilarang, entah itu cewek atau cowok. Jika kita manusia yang masih punya perasaan dan hati, menangis itu wajar. Toh, menangis juga bisa meredam stress ataupun hal negatif lain yang sedang dirasakan.
 
Tidak usah mendiskreditkan orang yang menangis itu adalah orang yang lemah. Seseorang punya caranya masing-masing untuk menyelesaikan persoalan yang ada dalam dirinya. Menyelesaikan konflik yang ada dibatinnya.
 
Jika marah, marahlah dengan damai. Marah tanpa harus mencampurkan hati didalamnya. Jika ingin tertawa, tertawalah selepas-lepasnya. Biarkan semua toxin keluar dari setiap tawa.
 
Hidup ini terlalu singkat untuk mendengar nyinyiran orang yang hanya berani mengatakan dari belakang. Tidak ada keberanian mengatakannya secara langsung. Dengan kepala dingin, tanpa ada emosi, dengan santun dan membimbing.
 
Kita menjadi dewasa tapi entah kenapa menjadi semakin stress. Stress mendengar kata orang, stress memikirkan apa kata orang, kalau baik bisa kita jadikan pembenahan tapi jika buruk dan berniat menjatuhkan, kadang itu yang susah untuk diabaikan. Malah kadang melekat.
 
Sungguh rindu rasanya dengan kualitas seorang anak kecil, dengan pemikiran yang serba polos, lugu tanpa beban. Bebas bergerak, bebas mengekspresikan berbagai hal, dari senang, sedih, kecewa, marah dan lain-lainnya.
 
Begitu bebasnya hingga lupa tentang omongan orang yang tidak terlalu penting.
 
Kebahagian dan kesediahan dalam hidup tidak ada yang abadi. Semuanya pasti akan berlalu. Bahagialah secukupnya, nikmati dan syukuri dari hal yang terkecil dari kebahagiaan, bersedihlah seperlunya, setelah itu kembali bangkit untuk menjalani hidup yang sebaik-baiknya.
 
Tulisan yang saya buat untuk diri saya sendiri, untuk mengingatkan saya, kalau saya pernah berpikir seperti ini.

Menjadi part time student itu menyenangkan, terlebih lagi menjadi full time blogger. @berbagiyuks @wyapaka @widyanaWebId

Related Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *