Cerita Random : Belajar Menjadi Technopreneur

Ga tau harus ngasi judul apa, karena ini cuma curhatan seorang pemula. Engga, saya ga akan membuat intro yang agak dramatis saat ini. Tulisan ini dibuat cuma ingin membagikan pengalaman dan menghilangkan kerinduan karena sudah lama tidak nulis/ngeblog lagi. Entah, kapan terakhir saya update ini blog.

Alasan saya jarang ngeblog karena susah mencari waktun ya g tepat buat nulis. Sebenarnya alasan susah mencari waktu bukan sebuah alasan yang tepat sih. Ketika saya ingin menulis, pikiran saya selalu dialihkan ke projek yang sedang dibuat. Sebuah projek membuat web app yang cukup kompleks kalau dikerjakan sendiri.

Seluruh perhatian saya saat ini tertuju pada satu projek ini, rencana saya mau menulis seminggu sekali gagal karena tidak bisa memecah fokus. Menargetkan merilis majalah pertama dengan teman malah mundur terus karena saya terlalu sibuk. Setiap pergi sama pacar malah menjadi kurang fokus karena pikiran saya terkadang tertuju pada ini projek. Maafin ya mba e.

Selama hampir 3 bulan saya mengerjakannya sendiri, belum juga mencapai 50%. Ini karena projek pertama yang saya buat dengan fitur yang kompleks dengan bahasa pemrograman yang belum saya dalami seutuhnya. Hingga akhirnya saya berada pada titik jenuh, iya saat ini. Merasa takut produk ini (kita sebut produk saja jangan projek) gagal sebelum rilis. Merasa perjuangan saya akan sia-sia karena karya saya tidak berguna.

Belakangan ini saya jarang kekantor, bekerja ditempat yang membuat diri saya nyaman untuk berpikir. Diwaktu yang tidak ada batasannya harus pada jam yang ditentukan. Orang-orang pasti akan berpikir, “enak banget kerjaanmu bebas, mau kerja jam berapa saja dan dimana saja”. Serius, kebebasan waktu dan tempat bekerja bukan jaminan buat kamu terhindar dari tekanan.

Kalau dipikir-pikir, jauh lebih enak bekerja dengan orang lain, kamu hanya menerima tekanan dari bos, serelah itu pulang santai, kamu tinggal mengurus kehidupanmu, mengatasi masalah yang ada dikehidupanmu. Kalau kamu belum berumah tangga, siapa lagi yang menekanmu setelah jam kantor? Apalagi buat kamu yang cuma hidup untuk diri sendiri. Awal bulan tinggal terima gaji.

Sebagai technopreneur ga segampang itu. Kamu harus memikirkan banyak hal, belum gaji karyawan, apakah usahamu akan berjalan sampai bulan depan. Keuangan bagaimana? Bagaimana harus meningkatkan omset. Bahkan harus memangkas gaji untuk diri sendiri agar perusahaan berjalan. Belum lagi masalah dan urusan kehidupan yang terjadi diluar kantor. Iya, tidak ada yang menekan, tapi tingkat tekanannya jauh lebih besar. Ini mungkin akan dialami oleh entrepreneur ditahun-tahun awal. Pasti semuanya mengalaminya juga. Tidur nyenyak itu cuma mitos.

Jika baru memasuki dunia entrepreneur atau lebih spesifiknya ke technopreneur mungkin akan mengalami fase ini, pasti. Tahun pertama sih merasa keren bisa punya usaha, mulai mengajak teman-teman untuk bangun usaha, tapi ditahun berikutnya sudah tidak ada waktu melakukan hal ini, yang dipikirkan apakah perusahaan saya masih tetap hidup ditahun berikutnya. Mungkin benar kata orang, ditahun kedua memang merupakan tahun yang paling riskan, antara hidup dan matinya sebuah perusahaan, mungkin ini tahun proses pemcarian jati diri untuk menstabilkan omset. Kemana langkahmu membawa perusahaanmu akan sangat penting ditahun ini.

Tapi dari semua ini, meski merasa lelah, pernah merasa kehilangan semangat. Merasa tidak ada yang menghargai, saya sendiri yakin, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kita cuma butuh dua kesiapan, siap untuk berhasil dan siap untuk kegagalan.

Saya percaya, hasil yang baik akan didapatkan bagi mereka yang bisa menikmti dan mengharagai setiap prosesnya menuju kesana. Tidak akan ada hasil tanpa ada proses. Entah proses itu sampai berdarah-darah atau tidak, semuanya pasti akan ada hasilnya. Baik atau buruk hasilnya, tergntung kita yang menyikapi.

Mau bekerja ditempat orang atau jadi pengusaha itu pilihan. Pilihan yang setidaknya harus dinikmati prosesnya. Tanpa bisa menikmati prosesnya kita akan selalu merasa tertekan dengan apa yang kita lakukan. Setidaknya belajar menyukai apa yang sedang dilakukan tersebut. Tidak usahlah sampai mencintai, cukup menyukai dan pekerjaan itu bisa dilakukan dengan hati yang senang, meski kadang merasa stress sih, itu wajar.

Setelah obrolan panjang saya dengan teman aka co-founder hari ini membuat saya lebih lega. Memang saya (kita) harus dari sekarang memikirkan akan dibawa kemana produk ini, bagaimana strategi marketing yang akan digunakan. Karena seperti kata Natali CTO dan Co-Founder Tiket.com, produk yang berkualitas tidak menjamin produk itu berhasil jika pemasarannya jelek.

Ya, inti dari obrolan tadi membuka pikiran saya, akan dibawa kemana produk yang sedang saya buat.
Salam seribu kepalan.

Co-Founder & Product Creator at Pilar Kreatif Studio | Writer & Editorial at Pindexain Blog | Twitter @widyanaWebId

Related Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *