Catalog #3 : Berkesenian, Melestarikan Budaya Lokal.

Menerawang ke beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan Juli 2017. Sebuah moment yang membuat perasaan saya campur aduk. Berada dipanggung bersama lebih dari 20 anak muda, mementaskan sebuah pertunjukan ke ratusan penonton yang hadir pada malam hari itu.

Moment yang paling penting bukan saat berdiri diatas pangung yang dipenuhi lampu yang menyilaukan mata itu. Tapi, ketika kami berproses. Doing a good thing for our culture.

Desa tempat saya tinggal (entahlah apa masih bisa disebut Desa karena terletak di ibukota Bali), mengadakan sebuah perlombaan untuk melestarikan budaya yang ada di Bali.

Fokusnya lebih ke seni Gambelan Beleganjur. Sebuah Gambelan yang menggunakan alat musik minimalis yang terdiri dari reong, ceng-ceng, pongang, kendang, kajar dan kempli, gong dan bende. Kenapa saya katakan minimalis? Karean tidak memerlukan terlalu banyak orang untuk memainkannya.

Idealnya, dibutuhkan 21 orang agar bisa memainkannya, tapi kurang dari itu masih bisa juga.

Dalam perlombaan tersebut, tim panitia menentukan sebuah tema “Kepahlawanan” sebagai acuan dalam peciptaan karya seni tersebut.

Yang terberat bukan bagian dari peciptaan sebuah karya, tapi bagaimana membuat orang, anggota tim tertarik dan menikmati bermain dengan hasil ciptaan tersebut.

Ini adalah proses. Pecipta karya akan meciptakan sebuah karya tersebut, tapi membuat orang tartarik itu yang sulit, karena ini lebih ke jiwa seseorang.

Seniman yang baik akan selalu tahu, karya apa yang tepat untuk penikmat karyanya.

Dalam persiapan ini, kami memutuskan tidak mencari seorang pelatih yang membantu kami dalam berkarya, tapi kami memilih menggunakan anak muda yang berada di lingkungan oraganisasi pemuda kami.

Anak semester 7 dan semester 5 Jurusan Seni Kerawaitan dan semester 5 Jurusan Seni Tari ISI Denpasar.

The local boy must be given a chance to move forward.

Dalam proses ini, saya sendiri sadar, untuk menciptakan sebuah karya yang baik tidak bisa berjalan dengan sendiri-sendiri, tidak bisa hany menggunakan ego sendiri, ketika kita menjadi sebuah tim, maka kita harus bergerak bersama, maju bersama-sama.

Disiplin penting, tanpa disiplin tidak akan ada karya yang baik, tapi disinilah kelemahan kita, termasuk saya juga. Menjalani kehidupan pekerjaan yang sedang masa-masa kita harus grow up sebagai perusahaan startup, membuat saya susah untuk datang tepat waktu. Sepanjang waktu saya harus dikantor, sampai rumahpun kadang harus bekerja lagi.

Terlebih latihan yang tiap hari tanpa henti selama 2 bulan. Pagi ngantor, pulang kantor, malamnya langsung latihan. Kehidupan saya hanya berkutat disitu-situ saja.

Kadang membuat saya bosan, lelah, tapi inilah proses.

Kenapa banyak anak muda yang males untuk mau ikut dalam berkesenian karena proses dalam berkesenian itu susah. Melestarikan budaya itu tidak semudah orang-orang katakan “ayo lestarikan budaya kita sebalum diambil negara lain”, ini jauh lebih ke rasa memiliki dari diri itu sendiri.

Melestarikan sebuah budaya lokal tidak harus dengan menciptakan karya seni, tapi datang dan terlibat dalam proses berkesenianlah langkah awal yang bisa kita lakukan.

Selain waktu dan disiplin, modal yang diperlukan untuk berkesenian itu tidak murah. Untuk bocaran, hanya untuk melakukan pementasan selama 7-8 menit saja, kami mengeluarkan dana hingga puluhan juta. Itu adalah nilai yang masih normal dalam membuat sebuah pertunjukan.

Banyak masalah terjadi, saling marah, bertengkar di group chat, tapi memang ini bagian dari proses.

2 bulan yang berarti bagi kami, terutama saya. Belajar bagaimana berproses, bagaimana menjadi lebih sabar, lebih tekun dalam proses apapun, yang terpenting, bagaimana kita menjadi solid dalam menjalani kegiatan tersebut. Apapun itu.

Tanpa kerjasama, hanya mengandalkan satu/dua individu saja, akan membuat proses tersebut tidak maksimal, hasil yang didapatkan pun akan seadanya saja.

See you.

Co-Founder & Product Creator at Pilar Kreatif Studio | Writer & Editorial at Pindexain Blog | Twitter @widyanaWebId

Related Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *