Isi Kepala

Yap, sudah lama kan ya tidak ngeblog. Janjinya tiap hari minggu, tapi malah ga pernah nulis apa-apa. Pertama karena kesibukan dan juga karena jalan-jalan melulu sih sama pacar, biasalah baru punya pacar baru. Nanti aja bosen. Okay, ini saya mulai lagi. Tapi, tulisan ini sudah pernah saya post disebuah note dan saya pikir layak untuk di publikasikan disini. Tulisan yang saya pikir agak random, tapi masih bisa dinikmati.

23 Februari 2016, ini sudah lewat tengah malam. Duduk diatas kursi yang nyaman dan didepan laptop yang dibelakannya terdapat komputer yang sedang rusak, saya hanya ingin mengeluarkan  uneg-uneg yang ada dikepala, ingin menghilangkan penat. Meski tidak semuanya yang mungkin bisa saya tulisakan disini, tapi setidaknya mengurangi sampah yang ada dikepala saya.

Kalau mengingat masa itu, sungguh itu adalah hari terburuk dalam hidup saya. Saat dimana semuanya menjadi seperti runtuh. Saya hidup tapi seperti sudah mati, rasanya kosong. Seperti melayang. Kalau dibilang mati, saya masih bisa merasakan sakitnya. Sakit akan rasa kecewa itu. Diawal saya merasa dibawa terbang begitu tinggi, setelah mancapai tingkat ketinggian yang paling maksimal, saya dilempar hingga jatuh terpelanting. Badan saya tidak remuk, tapi sakitnya terasa begitu keras. Jika hanya badan saya saja yang remuk, masih bisa diobati, tapi ini tidak ada yang tau sakitnya di sebelah mana.

Begitulah ekspektasi, keinginan akan hasil dari sebuah harapan. Saya merasa tidak akan bisa bangkit, saya selalu memohon dan berdoa agar saya diberikan kematian. Entahlah, Tuhan begitu sayang kepada saya atau bagaimana, hal itu tidak pernah dikabulkan. Perlahan saya mulai bangkit, memahami apa yang sebenarnya telah terjadi. Saya bisa melewati masa itu, tapi jika saya membayangkan masa itu, masih menyakitkan, terlebih ada hal yang tiba-tiba saya temukan yang berkaitan dengan kejadian itu, saya merasa sakit yang lumayan dalam.

Tidak ada yang bisa saya lakukan, saya perlahan mencoba merelakannya, menerimanya, mengikhlaskannya. Sulit. Tapi saya tidak mau menyerah. Ini hanya bagian dari ego saya sendiri dan saya tidak ingin menyerah begitu saja. Saya sudah melangkah sejauh ini. Tapi, tetep saja, ketika rasanya begitu menyakitkan, kadang terlintas doa atau permohonan akan kematian itu cepat dikabulkan.

Rasa penyesalan, perasaan kecewa, perasaan negatif itu terkadang selalu muncul, kadang membuat saya selalu berpikir, apa salah saya sampai disiksa seperti ini, saya selalu berusaha menyenangkan orang lain, berusaha baik kepada orang, bahkan ketika ada orang yang menyakiti saya, saya tidak pernah punya ke kekuatan untuk membalasnya, yang timbul malah perasaan kasian, tidak tega membalasnya. Apa saya ini terlalu naif? Kadang terpikirkan hal itu. Banyak orang yang selalu berbuat hal yang tidak baik, tapi mereka selalu baik-baik saja. Jika mereka punya cara berbeda atau cara yang lebih baik dari saya untuk menghadapi  setiap masalahnya, kenapa saya tidak bisa seperti itu? Disinilah saya mulai banyak merenungkan setiap kejadian yang telah terjadi.

Kadang saya bertanya-tanya, apakah saya harus keluar dari jalur-Nya agar saya bisa merasakan kesenangan itu semua? Berhenti menjadi orang baik, berhenti membantu orang lain, berhenti memikirkan kebahagiaan orang lain, hidup hanya untuk kesenangan diri sendiri. Enggak, itu bukan hidup yang harus dijalani. Saya tidak mau hidup seperti itu. Meski ada isi kepala yang menginginkannya, tapi hati saya tidak akan tega melakukannya.

Saya sudah kehilangan kesadaran saya, kebijaksanaan saya. Tapi, ketika saya menyadarinya, setiap masalah yang didapatkan akan menghasilkan kesadaran dan kebijaksanaan yang baru.

Ketika mendapatkan A maka saya kan sangat bahagia, ketika saya dapat B saya akan begitu bahagia, itu semuanya salah, saya tidak akan pernah bahagia jika menggantung kebahagian pada sesuatu. Saya selalu bertanya-tanya kapan ini semua akan berakhir? Kapan penderitaan itu akan berakhir? Ini semua tidak akan berakhir. Semasih saya hidup masalah atau rasa sakit akan selalu ada. Cuma porsinya saja yang mungkin berbeda atau berkurang.

Pada akhirnya semuanya akan berlalu, senang, sedih, kecewa, bahagia, tidak ada yang permanen. Berhenti berekspektasi, jangan terlalu meninggikan harapan, lakukan sesuatu yang harus dilakukan, dan percaya semuanya akan baik-baik saja. Meski terasa sakit, akan ada waktu untuk sesuatu  yang baik datang. Ini semua akan berlalu.

Hanya sebuah isi pikiran yang pada akhirnya harus dikeluarkan lewat tulisan. Bentar, saya bingung mau kasi judul apa, karena tulisan ini random saja datangnya. Oke, kita kasi judul, isi kepala (tulisnya di kolom title woy!). Menulis adalah hal yan paling menyenangkan, mengeluarkan segala isi kepala lewat tulisan adalah salah satu cara refreshing yang lumayan bisa melegakan. Maka dari itu, saya tidak tau kesimpulannya apa, ini random aja buat penutup. Kangin-kauh.

Menjadi part time student itu menyenangkan, terlebih lagi menjadi full time blogger. @berbagiyuks @wyapaka @widyanaWebId

Related Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *