Kenapa harus egois?

Angin berhembus sepoi-sepoi, menyejukan malam yang begitu panas, tapi tidak dengan malam ini. Malam terasa mendamaikan. Terlentang dibawah ribuan cahaya bintang yang begitu cantik. Begitulah ketika aku melihat matamu. Daun dan ranting mulai menyanyikan musiknya yang khas ketika ditiup angin. Indahnya jika kamu berada disebelahku.

Okay, gelik, abaikan intro diatas, sebenarnya saya lagi merasakan angin sepoi-sepoi kipas angin, terus terlentang diatas kasur yang seprainya sudah mulai bauk karena keringet. Iya, saya tidur keringetan karena kepanasan (jadi cowok kok jorok amat, mana ada yang mau). Hei, gini-gini saya udah punya pacar lho, tepatnya akhirnya ada yang mau. Entahlah kenapa dia mau, mungkin dia hilaf atau peletku bekerja dengan baik? Hmmm.

Tumben banget nih bisa nulis lagi setelah sekian lama dan nulisnya via iPad (sombong). Iya, pegel tangan nulis pakai iPad, sama kayak lagi chatingan dengan isi yang panjang-panjang.

Kita kembali kepembahasannya saja ya, masalah egois. Mungkin tiap orang punya pandangan yang berbeda tentang topik ini, tapi disini saya mau membahasnya dengan pandangan saya sendiri, ya kali aja cara pandangan kita cocok, kalo udah cocok kan tinggal jadian aja (ini kode buat mbaknya yang lagi senyum-senyaum. Bukan, bukan kamu. Kamu itu cowok )(di jewer).

Asik banget kan ya, kalau setiap keinginan kita dituruti. Sudah pasti asik banget dan menyenangkan kalau kita bisa menang dan menjadi paling benar dari orang lain. Saya sering menjadi seperti itu, menyenangkan sekali. Rasanya seperti kita sudah berada dipuncak, tidak ada yang bisa menurunkan kita lagi. Si Monster Ego sudah menang. Dia sudah berkuasa. Tapi, setelah saya punya orang yang selalu mengingatkan saya kalau saya adalah orang egois, saya mulai berpikir ulang, mulai intropeksi diri lagi. Mulai merenungan kejadian-kejadian yang telah terjadi. Saya menemukan kenyataan kalau saya memang egois, saya selalu mementingkan diri sendiri, merasa diri sudah paling benar, padahal saya ini masih belum apa-apa. Meski ketika diingatkan saya selalu menentang dengan pembelaan segala macem, tapi setiap kata-kata itu meresap langsung ke hati, tanpa diproses lewat intelek. Intelek inilah yang selalu membuat pembelaan, penilaian, dan penghakiman yang membuat kita sudah kehilangan sebuah pelajaran yang berharga.

Jika ke-egoisan ini terus saya pelihara, maka saya akan kehilangan banyak hal, entahlah apa itu. Karena dengan menjadi egois mungkin saja saya sudah melukai orang secara langsung maupun tidak. Bentar-bentar, mau nyari udara segar dulu, ini Si Item (anjing peliharaan) kentut. Huft.

Dengan menjadi egois, saya tidak akan bisa memahami orang, tidak bisa memahami penderitaan orang karena hati kita sudah ditutupi kabut ego yang pokoknya “saya yang paling berkuasa”. Kenapa sih harus memahami penderitaan orang? Kenapa harus peduli dengan hal itu sih? Jika kamu hidup hanya untuk kepentingan dirimu sendiri, kamu akan kehilangan indahnya dunia ini, kamu akan kehilangan arti dari kehidupan (ini saya copas dimana yak). Untuk memahami penderitaan orang lain, maka kita harus merasakan penderitaan juga, relakan semua ego, biarkan penilaian, penghakiman itu pergi jauh karena kita tidak memerlukannya dalam hal ini.

Maaf, barusan saya ketiduran. Eh, kebangaun jam setengah 4 pagi. Ini penting buat dibahas. Ini beneran.

Mari kita lanjut lagi.

Hubungan

Dalam sebuah hubungan juga seperti itu. Sebisa mungkin mengurangi keegoisan kita. Mungkin benar ya kata orang, pacaran itu dimana kita belajar memahami satu sama lain, belajar lebih dewasa dan lebih bijak agar bisa menyatukan isi kepala, dan tentunya belajar mengurangi ego. Ini penting dilakukan bagi yang serius dan akan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Ini cuma menurut saya sendiri saja. Mungkin orang yang sudah sering berpacaran lebih mengerti ini. Eh, tapi banyak sih yang malah mengabaikannya.

Cowo atau cewe bagi saya sama saja dalam segi keegoisan, tidak semua cewe egois dan tidak semua cowok egois. Itu masih menjadi pilihan. Jika salah satunya (entah cowok atau cewek) tetep egois tanpa mau belajar buat memahami satu sama lain, maunya dituruti saja, maunya harus dia yang menang, itu kamu pacaran sama dia karena sayang apa mau jadiin dia babu sih? Kasihan orangnya digituin, itu hati bukan bukan batu.

Susah memang dalam sebuah hubungan berjalan dengan harmonis jika keegoisan itu masih dijunjung tinggi. Bukan dalam pacaran saja sih, tapi dalam pernikahan mungkin juga seperti itu.

Hal yang paling susah dilakukan adalah memahami. Kalau kamu masih menjunjung tinggi egomu, boro-boro mau memahami orang, dirimu sendiri akan susah kamu pahami.

Membangun Usaha

Sama halnya dengan hubungan, dalam membangun sebuah usaha yang dirikan oleh lebih dari satu orang, egoisme itu penting banget dikurangi, kalau memungkinkan, dihilangkan. Kalau kamu selalu membawa-bawa egomu itu, maka usahamu akan bubar. Ya, intinya disini kita harus bisa belajar sadar diri. Sadar atas kemampuan kita. Belajar menerima.

Dulu, di awal-awal saya membangun sebuah usaha dengan teman saya, benar-benar menjadi hari yang melelahkan. Saat itu sudah mulai memasuki umur setahun, kerjaan kami cuma bertengkar mempermasalahkan hal yang sepele. Karena kita mempunyai latar belakangan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Hampir, iya hampir setiap hari kita bertengkar mempermasalahkan satu hal. Misal, fitur yang baik diisi dalam sebuah layout web.

Perlahan hal itu bisa kita lewati, kita belajar saling memahami satu sama lain. Dan sekarang semuanya menyenangkan. Semenjak menambah tim, pekerjaan kita sudah terbagi, sudah punya devisi masing-masing. Ya, pasti intinya ada KOMUNIKASIKAN. Komunikasi itu penting dalam menjaga sebuah hubungan baik dengan teman atau pasangan. Banyak orang yang enggan mengkomunisikan masalahnya dengan pasangan atau partner yang membuat hubungan baik menjadi sedikit tergoncang. Disinilah letak ego bermain lagi, selain egois, dia akan menciptakan gengsi. “Masa aku sih yang mulai duluan”, seperti itulah.

Oh ya, seperti yang saya katakan sebelumnya, setelah bisa mengurangi ego,maka sadar diri. Biasanya kalau sudah partneran dalam membangun usaha, akan susah menentukan siapa yang akan memimpin (kerennya menjadi CEO) di perusahaan tersebut jika masih egois dan tidak mau sadar diri.

Dulu diawal-awal saya ingin sekali menjadi leader atau CEO dari perusahaan yang saya bangun bersama teman saya. Tapi, makin kesini, saya sadar tidak punya bakat itu. Saya buruk dalam manajemen. Tidak bisa menentukan business plan. Dan sangat males bertemu orang. Begitulah introvert. Saya lebih suka membuat sebuah produk atau sedikit inovasi baru untuk perusahaan saya. Berlandaskan hal ini, saya memutuskan tidak akan menjadi Leader atau CEO, karena menurut saya, teman saya ini lebih pantas. Semua strategi bisnis perusahaan dia yang pegang kendali, sampai mencari pangsa pasar.

Ini adalah akhir dari tulisan yang panjang ini, akhir perjumpaan kita pada subuh hari ini (apa sih). Semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman, terutama untuk saya sendiri. Tulisan ini suatu saat akan jadi pengingat untuk diri saya sendiri. Sekarang tanyakan ke diri sendiri, kenapa harus egois?

(Lanjutin tidur yang sempat tertunda, hooaam)

Salam.

Menjadi part time student itu menyenangkan, terlebih lagi menjadi full time blogger. @berbagiyuks @wyapaka @widyanaWebId

Related Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *