Satu Level ke Tingkat Kesadaran

Ketika kita dibutakan dan terjatuh dengan segala hal yang ada dan terjadi pada kehidupan duniawi ini, kita menderita akan segala kejadian yang terjadi pada hidup, cuma kesadaran yang kita punya untuk membantu kita keluar dari semua ini. Seperti kata seorang Guru, “Kehidupan di duniawi adalah penderitaan”. Tapi, penderita yang kita alami akan membuat kita memahami penderitaan orang lain, jika kita bijak dan memiliki kasih sayang, kita tidak akan pernah menyakiti atau membuat orang lain menderita, karena kita tahu bagaimana rasanya penderitaan itu, begitulah hal yang dapat saya pelajari dari sebuah komik manga (yaelah, serius amat baca manga sampai segitunya, bro).

Dalam artikel ini saya akan menceritakan hal-hal buruk yang beberapa hari ini menimpa saya, yang membuat saya benar-benar merasakan depresi. Sekali-sekali menceritakan hal buruk kayaknya gak apa-apa kan ya, biar gak cerita yang senang-senang melulu.

Beberapa bulan yang lalu saya sedang menjalani kehidupan yang penuh dengan kesibukan, biasa anak semester akhir, apa lagi kalau bukan skripsian. Karena mengerjakan skripsi ini, saya menjadi harus meninggalkan pekerjaan saya  dan tidak pernah pergi kekantor selama 2 mingguan. Begadang terus sampai subuh (orang yang sudah melewati pasti akan ngomong, “yaelah bro, baru segitu doang”). Entah, apa yang terjadi, untuk pertama kalinya saya tahu apa itu stress dan merasakan depresi yang benar-benar membuat saya hampir menyerah. Dulu sih pernah bertanya-tanya, stress itu apa sih? Bagaimana sih rasanya stress? Mungkin ini jawabannya, Tuhan langsung memberikan saya jawabannya dengan pengalaman langsung.

Ketika sedang merasa tertekan karena kejar-kejaran dengan skripsi, rasanya banyak banget masalah berdatangan. Mungkin salah saya juga sih, terlalu leha-leha dan menunda-nunda, jadinya mengerjakan skripsi jadi kejar-kejaran gitu. Masalah yang paling besar saya dapatkan adalah masalah yang timbul dalam diri sendiri. Iya, kita sebenarnya tidak pernah mendapatkan masalah dari pihak luar, tapi kita sendirilah membuat masalah itu ada. Kadang kita terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting dan itu akan menjadi masalah besar dalam hidup kita. Terlalu takut, terlalu khawatir. Pikiran akan membuat ilusi yang akan membuat kita jatuh. Itu yang terjadi dengan saya.

Saya tidak akan menceritakan secara detail apa yang terjadi karena itu terlalu pribadi, tapi yang terjadi pada saya adalah terlalu menanggapi kejadian itu terlalu serius, terlalu jauh berpikir sehingga saya malah down. Saya merasakan kesepian. Bermasalah dengan seseorang yang entah apa masalah yang sebenarnya. Saat itu, saya benar-benar merasa orang yang paling malang dan paling menderita, untung saja hal ini tidak mengganggu pengerjaan skripsi saya, hampir saja membuat saya tidak lulus. Karena sebelum-sebelumnya saya sudah niat dan yakin saya lulus, mungkin itu yang memberikan saya energi yang membuat saya selalu bisa mengerjakan semuanya dengan baik, meski dalam keadaan sangat-sanget tertekan.

Sebelum sidang, karena begitu banyak tekanan saya tidak bisa tidur, seperti mati rasa, setiap badan rasanya kesemutan, bukan karena grogi menghadapi sidang skripsi, mungkin dari masalah yang lainnya. Ya, paginya sebelum sidang (saya sidang sore) saya mencari bapak saya dan menangis dipelukannya (maap agak drama). Menangis adalah hal yang paling dihindari bagi cowok, tapi saya yakin, meski kamu cowok, pasti pernah nangis, ada yang ditutup-tutupin atau yang terang-terangan bilang. Tapi, kalau kamu gak pernah nangis atau gak mau nangis agar terlihat lebih tegar, kamu salah. Itu menyiksa. Saya saja lama banget agar bisa menangis, entah kapan terakhir saya menangis dan saya juga pernah mengatakan “buat apa nangis”, tapi ketika sedang dalam  keadaan tertekan atau depresi itu sangat diperlukan, bisa membuat lebih lega, saya menyesal sudah pernah mengatakan itu. Bukannya air mata mengandung zat yang bisa menghilangkan perasaan tertekan? Saya butuh waktu lama supaya bisa nangis, sampai saya marah-marah dengan diri sendiri, kenapa saya susah sekali nangis. Saya terang-terang menceritakan yang mungkin akan menjadi aib bagi cowok karena saya ingat pesan seorang Guru, “kalau sebuah rahasia dipendam maka akan semakin menguat, akan membuat ketidaknyamanan”, kurang lebih seperti itu. Terus apa hubungannya? Ya, pikir saja sendiri.

Karena adanya tekanan ini juga membuat saya berkata kepada teman saya “Saya menyesal menjadi orang baik, selalu dimanfaatkan”, mungkin jika membaca ini, teman saya akan tahu apa maksudnya. Saya benar-benar merasa menjadi orang yang paling malang, orang yang paling diacuhkan.

Setelah semua itu terlewatkan saya menyesal sudah berkata menyesal menjadi orang baik (apa sih). Saya hampir lupa dengan prinsip saya sendiri, tidak akan pernah menyakit orang yang sudah menyakiti saya. Karena saya tahu penderitaan akan rasa sakit. Saya bukan pembenci ataupun pendendam. Ayah saya juga berkata, “menjadi baik juga akan membantu kita mendapatkan karma yang baik juga”. Mungkin tidak kita dapatkan sekarang, tapi akan kita dapatkan nanti. Bahkan saya pernah berprinsip, saya tidak akan membuat reinkarnasi saya dimasa mendatang menderita karena perbuatan buruk saya dimasa sekarang.

Saya menceritakan hal ini dalam artikel ini, pertama agar kamu yang mengalami hal yang serupa, merasa paling malang, sadar, kamu tidak sendirian. Kita semua juga pernah mengalami hal yang sama. Ada orang yang terbuka tentang masalah hidupnya, ada juga yang tidak. Orang yang telihat selalu tersenyum kemungkinan mereka mempunyai masalah yang berat, sama halnya seperti saya, saya tidak akan mau terlihat sedih atau mengeluh didepan umum bukan karena malu, tapi saya tidak mau menyebarkan energi yang negatif kepada orang lain. Jangan pernah berhenti menjadi orang baik, ingatlah orang yang baik itu akan mendapatkan lebih banyak ujian untuk menguatkan imanmu, apakah kamu akan berubah atau tetap meningkatkan kualitas kebaikanmu. kedua, karena saya ingin membuat sebuah catatan, ketika nanti saya mengalami hal yang sama atau apapun itu, saya bisa tahu ternyata saya pernah mengalami hal yang buruk.

Apapun yang saya katakan dalam tulisan di blog ini, mungkin saja bisa berubah, karena keadaan tidak akan selalu sama. Kejadian tidak akan selalu sama, everything is changing, itu yang sering Guru saya katakan. Saya masih bisa merasa beruntung karena memiliki seorang Guru yang masih hidup. Guru yang selalu menuntun saya kearah yang benar. Meski, Beliau berada dijarak yang sangat jauh, tapi beliau selalu menolong saya dan menuntun saya dengan hal yang tidak pernah saya duga. Bagi saya sebagai seorang murid, Seorang Guru adalah perwujudan nyata Tuhan didunia.

S__38264844

Saya juga berterima kasih kepada teman-teman yang sudah membantu saya menyelesaikan Tugas Akhir, saya tersadar, saya tidak sendirian, saya mempunyai mereka yang selalu membantu saya ketika mengalami kesulitan. Teman yang selalu mendengarkan cerita saya siang-malam, seseorang yang memberikan perubahan besar terhadap diri saya dalam 5 tahun terakhir ini, orang tua yang selalu mendukung dan memberikan saya bimbingan, keluarga lain yang selalu mendoakan kebaikan buat saya, Saya LULUS (nangis terharu).

Endingnya kok mengharukan sekali yak.

Oke, untuk mengakhiri tulisan ini saya mau mengutip kalimat yang bapak saya katakan dari apa yang dibacanya.

“Ketika badai berakhir pasti akan mengahasilkan pohon-pohon yang kuat”

Salam

Menjadi part time student itu menyenangkan, terlebih lagi menjadi full time blogger. @berbagiyuks @wyapaka @widyanaWebId

Related Stories

One Response to Satu Level ke Tingkat Kesadaran

  1. ciyee..nangis ciyee….
    btw, kan dulu aku pernah bilang, ketika pertengahan skripsi, aku bahkan sampe bakar semua bahan skripsiku dan nulis dari awal lagi ;))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *